Tarikh Tasyri Islami - megablog
Silahkan Cari yang anda inginkan Lewat search Di Bawah
Home » , » Tarikh Tasyri Islami

Tarikh Tasyri Islami

Assalamu'alaikum Wr Wb

Tarikh tasyri’ adalah sejarah pembentukan hukum islam, kata tasyri’ berbeda dengan tasyriq ( ) yang aritnya hari menjemur, berkaitan dengan aidul adha, dan juga berbeda dengan tasyrik ( ) yang artinya penggabungan.
Tasyri’ atau syari’at adalah
Tembakan allah yang ada kaitannya dengan perbuatan orang mukallaf. Syari’at terdiri dari perkara halal, haram, wajib, mubah dan sebagainya.

Pembentukan Hukum Menurut Istilah Syar’I Dan Perundang Undangan
Penyusunan undang-undang yang mengatur tingkah laku orang-orang mukallaf hal-hal yang terjadi tentang berbagai keputusan dan kejadian-kejadian.
Kalau sumber pembentukan undang-undang tersebut dari Allah SWT dengan perantaraan para rasulnya maka disebut tasyri’ ilahi, apabila sumber pembentukannya dari manusia baik secara perorangan maupun secara kelompok maka disebut tasyri’ wadh’i ( ). Perundang undangan dalam Islam ada dua macam :
1. Undang undang disusun oleh Allah SWT berupa ayat Al Quran, Ilham , dan kepada Rasul-Nya
2. Undang undang yang disusun ulama mujtahidin dengan istimbat dari nash-nash syara’, dan semangatnya, rasionya serta petunjuk-petunjuk hukuknya dan kedua ini bila ditinjau dari segi sumber pengambilannya maka dapat disebut sebagai tasyri’ Ilahi ( ), bila ditinjau dari segi ijtihadnya para ulama serta usaha penggalian, dan perkembangannya maka disebut tasyri’ wadh’i ( ).
Fungsi waw jam’I adalah muthlaqul jam’I ( ), harus digabung. Mengenai bacaan alfatihah dalam sholat terdapat perbedaan dikalangan ulama pendiri mazhab.
Hukum bacaan alratihah dalam sholat
 Menurut syafi’I wajib, dengan dalil “Tidak sah sholat seseorang jika tidak membaca al fatihah”.
 Hukumnya adalah makruh tahrim menurut imam hanafi dengan dalil “maka bacalah apa yang mudah dari alqur’an”
 Menurut hanbali dan maliki tidak wajib bagi ma’mum dan wajib jika sholat sendiri, dalam pendapat hanbali ditambahkan kecuali tidak didengar oleh ma’mum


Kondisi umat islam pada masa nabi Muhammad SAW
pertumbuhan fiqih pada masa ini tidak terhindar dari peran nabi Muhammad SAW baik sebagai rasul maupun pemimpin militer. periode pertumbuhan fiqih periode nabi adalah masa ketika fiqih mulai tumbuh dan membentuk dirinya menjelma ke alam perwujudan sumber asasi yang ada adalah alquran dan sunnah rasul.
Pada periode ini karena segala persoalan yang muncul dikembalikan kepada nabi untuk diselesaikan,nabi menjadi satu-satunya sumber hukum ,dalam arti lain secara langsung pembuat hukum adalah nabi,sedangkan Allah membuat hukum secara tidak langsung.

Hal ini karena tugas nabi adalah menyampaikan dan melaksanakan hukum yang ditentukan Allah ,setelah nabi wafat para sahabat berpegang pada alquran dan assunah yang ditinggalkan nabi,oleh karena itu sumber huklum yang ditinggalkan nabi untuk masa-masa yang selanjutnya adalah alquran dan asssunah.

Patut diketahui bahwa pada masa nabi ini tasyri’ islami merupakan peletakan dasar pokok dan prinsip-prinsip umum,selain itu istilah fiqih pada periode ini merupakan pemahaman ilmu agama secara keseluruhan hal ini berbarengan diketahui bahwa ilmu-ilmu keagamaan seperti ilmu kalam dan tasawuf,berkembang secara keilmuan pada abad ke2 hijriah.

Hukum yang muncul diakhir hayat nabi berdasarkan penelitian antara lain :

1. Pembatasan poligami
2. Pengaturan pewarisan
3. Pembentukan adat religious, pada saat yang sama diperkenalkan pelarangang tradisi meminum minuman keras
4. Tradisi khitanan di izinkan dan selanjutnya menjadi ajaran penting dalam islam
5. Perubahan kelender tahunan dari tradisi ke qomariah
6. Praktek sholat dan penyempurnaan haji


Pedoman pembentukan hukum pada priode Rasul


Adapun periode yang diperuntukkan nabi dalam rujukannya kepada sumber-sumber tasyri’,manakala datang satu problem untuk dipecahkan hukumnya beliau terlebih dahulu menunggu datangnya wahyu dari allah SWT dan kalau ternyata wahyu Allah tidak turun maka beliau sendiri menyadari bahwa persoalannya telah diserahkan kepada beliau sendiri untuk berijtihad dengan berlandaskan kepada undang-undang ilahi dan jiwa tasyri’ serta perhitungan pribadinya yang berorientasi pada kemaslahatan dan juga musyawarah dengan para sahabat beliau,adapun prinsip-prinsip umum( )sebagai landasan pembentukan hukum islam.
1. Mempermudah/memperingan
2. Menyedikitkan peraturan
3. Berangsur-angsur

Contoh mempermudah adalah berinfak dengan sebagian harta
Contoh menyedikitkan adalah rukun islam hanya lima perkara, namun bisa membawa kesurga bila dilaksanakan atau dicampakkan keneraka bila diabaikan.


Hukum Islam pada masa Khulafaurrasyidin ( 11-40 H / 632-661 M)

a. Kondisi awal periode al khulafaurrasyidin.

Periode ke ll/masa perkembangan fiqih ini bermula sejak meninggalnya nabi muhammad SAW pada tanggal 8 juni 632M/11H dan berakhir pada ketika Muawiyah bin abu sofyan pada tahun 41H(660M)30 tahun setelah nabi Muhammad meninggal persoalan umat islam pada periode ini ditangani oleh para sahabat Asaf A.A.fyzee menjelaskan bahwa periode ini adalah periode terpenting dalam pembentukan hukum islam dalam periode yang menghabiskan waktu lebih kurang 30 tahun ini paling tidakada 2 hal yang paling penting:
1. Adaptasi sunnah terhadap tradisi Arab.
2. Pembukuan alquran pada masa usman.

Pada periode ini daerah kekuasaan islam bertambah luas bahkan mencakup daerah-daerah diluar semenanjung arabia yang sudah memiliki kebudayaan tinggi dari masyarakat arab pada masa itu.

Pada masa ini islam mulai berkembang dan melebarkan sayap-sayapnya dan menyebar-nyebarkan panji-panji islam dan menjalankan misinya keberbagai daerah disekitar jazirah arab seperti Irak,Syiria,Mesir dan daerah-daerah di afrika utara dan daerah lainnya.Oleh karena itu sudah tentu persoalan-persoalan yang timbul dimasyarakat disemenanjung arabia pun menjadi ragam.

b. Kondisi awal shighor sahabat dan tabi’in

Periode ke 3 dalam perkembangan fiqih ini bermula pada saat pemerintahan umat islam diambil alih oleh Muawiyah bin abi sofyan(41 H)setelah melalui pergumulan politik yang panjang antara Muawiyah Ali bin abi thalib yang berakhir dengan terbunuhnya Ali wilayahnya islam pun menyebar dan lebih luas dari periode sebelumnya.periode ini dinamakan periode siqhar sahabat karena perkembangan hukum islam berawal dari mereka,setalah wafatnya sahabat yang bergelar khulafaurrasyidin dari para sahabat junior fiqih dikembangkan oleh tabi’in belakangan orang-orang madinah misalnya banyak mendapat fiqih dari pengikut Zaid bin shabit dan Abdullah bin umar.

Orang-orang mekkah diwariskan oleh Abdullah bin abbas dan orang-orang irak diwariskan oleh fiqih ibn mas’ud.pada awalnya para mu’ti ini kebanyakan bertempat tinggal dimadinah namun setelah kekuasaan islam bertambah luas mereka tinggal (berpencar)diberbagai kota dan tempat.Oleh karena itu,pembentukan hukum pada awal masa ini dengan melalui ijma’ kemudian mereka mengadakan ijma’ perorangan periode ini merupakan awal pembentukan fiqih islam.

Di irak sahabat yang dikenal sebagai pengembangan hukum islam adalah Abdullah bin mas’ud,di Madina Zaid bin tsabit dan Abdullah ibnu abbas,masing-masing sahabat ini menghadapi persoalan yang berbeda sesuai dengan keadaan masyarakat setempat.

Format fiqh

Pada periode ini pengertian fiqih sudah beranjak dan tidak sama lagi dengan pengertian ilmu sebagaimana yang dipahami pada periode sebelumnya karena fiqih sudah menjelma sebagai salah satu cabang ilmu keislaman yang mengandung pengertian mengetahui hukum-hukum syarat yang bersifat amali(praktis) dari dalil-dalilnya yang terperinci,disamping fiqih,perioda ini pun ushul fiqih telah menjadi salah satu cabang ilmu keislamaan.

Berbagai metode ijtihad,seperti kiyas dan lain-lain telah dikembangkan oleh ulama fiqih dalam perkembangan nya,fiqih tidak saja membahas persoalan aktual tetapi juga menjawab persoalan yang akan terjadi sehingga bermuncullah fiqih iftiradi(fiqih berdasarkan pengadaian tentang persoalan yang akan terjadi di masa mendatang)pada periode ini pengaruh ra’yu dalam fiqih semakin berkembang karena ulama madrasah al-hadis juga mempergunakan ra’yu dalam fiqih mereka,di samping itu di irak muncul pulak fiqih syiah yang dalam beberapa hal berbeda dengan fiqih al-sunnah waljamaah(imam yang 4).

Hal menarik dalam penelitian bahwa fuqoha irak memiliki keistimewaan (memprediksi suatu peristiwa yang belum muncul sekaligus menetapkan hukumnya)kajian-kajian fiqih model ini belakangan mendapat perhatian yang besar dari fuqoha periode berikutnya.

Kajian-kajian fiqih produktif ini disebut Al fiqhu ta’diri.
Madrasah Al-hadist : (aliran-aliran hadis)
Syekh:orang tua(guru besar)
Pengembang fiqih di Irak:Abdullah bin mas’ud
Pengembang fiqih di Mekkah:Abdullah bin abbas
Pengembang fiqih di Madinah:Zaid bin tsabit
Pengertian cabang ilmu : adalah mengetahui hukum-hukum syara’ yang bersifat amali(praktis)dari dalil-dalil yang terperinci

SUMBER DAN METODE HUKUM ISLAM

A. Pengertian sumber dan metode hukum islam.
1. Pengertian sumber hukum islam

Sumber hukum merupakan persoalan polemik antara ahli tasawuf dan ahli fiqih,ahli tasawuf berpendapat bahwa sumber hukum secara hakiki adalah Allah sementara ahli fiqih berpendapat bahwa sumber hukum adalah Alquran sebagai dalil hukum,intinya Alquran sebagai dalil hukum adalah Allah sebagai sumber hukum Allah berfirman tanpa suara dan hurufdan mushab Alquran yang beredar dimasyarakat yang ditulis dengan suara dan huruf adalah dalil hukum,apabila terpaksa kita mengatakan bahwa Alquran adalah sumber hukum yang dimaksud sumber tersebut adalah dalam pengertian Majasi.
Sumber hukum yang bersifat wahyu adalah Alquran dan Assunah sedangkan sumber hukum yang bersifat ijtihadi adalah ijma’ dan kiyas, Menurut Alghazali yang dimaksud dengan wahyu sebagai sumber utama adalah Alquran,sementara Assunah sekalipun sifatnya wahyu hanya berfungsi sebagai sumber hukum penjelas / mukhbir tentang hukum Allah, adapun kehadiran ijma’berfungsi sebagai petunjuk / argumen / dalil tentang eksitensi dan fungsi Assunah,disamping itu kehadiran akal menjadi penting pula sebagai penegas mengenal tidak adanya hukum bila tidak terdapat keterangan dari ke 3 sumber hukum itu .Wakhban azzuhaidi sebagaimana juga Asyartibi menyimpulkan dalil hukum pada 2 nilai
1. Dalil hukum bernilai wahyu(dalil naqli)
2. Dalil bukan wahyu(dalil aqli)

Yang bernilai wahyu 2(Alquran dan sunnah)yang bernilai bukan wahyu 2 (ijma’ dan kiyas). Dalil-dalil kewahyuan disebut dengan dalil naqli yakni Alquran dan sunnah nabi,sedangkan dalil aqli diantaranya qiyas.
Menemukan dua perbedaan menjadi satu disesuaikan dengan kesanggupan / istitho’ah berdasarkan dalil “allah tidak membebani suatu jiwa kecuali sesuai dengan kesanggupannya” sebagai contoh bagaimana hukum khusu’ dalam sholat
Ada yang mengatakan wajib, dan ada yang mengatakan sunat, ini disesuaikan dengan kesanggupan,

Perbedaan syari’at dan fiqih

Hukum islam
1. Dimensi ilahiyah
“diyakini dan bersumber dari ilahy”
2. Dimensi isaniyah
“upaya manusia secara sungguh – sungguh untuk memahami ajaran suci melalui dua pendekatan yaitu pendekatan kebahasaan dan maqasid
3. Syari’at
 Syar’at bersifat sempurna dan tidak berubah
 Syari’at bersifat umum dan universal (tujuan keberadaannya dan nashnya ditujukan kepada seluruh manusia)
 Ketentuan syari’at mengikat tanpa mengenal waktu dan tempat
 Ijitihad yang benar bisa disamakan dengan syari’at
 Kebenaran hukum syari’at mutlak
4. Fiqh
 Fiqih terus berkembang dan bisa berubah menurut tempat, masa dan mujtahidnya
 Fiqih tidak bersifat umum dan universal
 Fiqih dan ijtihad tidak mengikat
 Ijtihad yang salah tidak bisa disamakan dengan syari’at
 Fuqoha’ dan mujtahid bisa saja salah
Back to Home
Share this article :

0 komentar:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

PORTAL

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. megablog - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger